Senin, 04 Juli 2016

Ghost part 1

Tahun 2010  ...

Seorang wanita bernama Mia datang seorang diri kesebuah rumah megah. Rumah bergaya modern itu begitu mewah, menggugah hati bagi yang melihatnya. Saat itu malam sudah larut, mungkin sebagian orang sudah terlelap dalam kantuk. Tapi Mia harus datang kerumah itu dengan segera untuk mengatakan hal penting pada pemilik rumah mewah tersebut.

"Halo sayang! Akhirnya kamu temui aku juga, setelah sebulan menghilang dariku" sambut si pemilik rumah yang akan mencium bibir mungilnya. Tapi Mia menolak. Ada guratan kebingungan diwajah si pemilik rumah dengan tingkah itu.

"Aku kesini ingin bicara serius sama kamu" ucap Mia. Yang menyelonong duduk tanpa perintah si pemilik rumah.

"Serius, serius bagaimana maksud kamu?" tanyanya. Dia duduk didekat Mia.

Mia kini seolah sulit untuk berucap kata. Hening, dan terpaku dengan kepala menunduk. Si pemilik rumah, atau bisa dibilang kekasih Mia itu mengangkat wajah Mia lalu menatap bibir merah merekah Mia dengan tajam. Perlahan mendekatkan kepala sehingga dapat mengatup bibir Mia dengan lembut. Mia terpejam oleh gairah hasrat kekasihnya itu, namun seketika Mia sadar lalu menghentikan aksi panas tadi.

"Kenapa Mia? Bukankah sudah lama kita tidak melakukannya?" bisiknya tepat ditelinga Mia.

Mia mendesah pelan mendengar bisikan lembutnya itu, namun ia kembali sadar dengan maksud tujuannya datang kerumah itu.

"Aku kesini mau bicara serius, bukan untuk itu!"

"Oke kita bicara serius, tadi aku hanya bermaksud mencairkan sikapmu yang begitu kaku padaku"

"Aku mau menikah" kata Mia seketika.

"Tentu, justru sudah lama aku mengajak kamu soal itu. Akhirnya kamu sendiri yang mengatakan itu padaku, sayang!" serunya antusias sembari membelai wajah Mia.

"Tapi bukan dengan kamu," aku Mia.

Bagai petir menyambar tubuhnya. Kekasih Mia kaget bukan main, dengan pandangan tak percaya.

"Jadi selama ini kamu punya kekasih lain?" pekiknya. Mia mengangguk pelan, lalu tertunduk karena tak kuasa melihat kemarahannya.

Mia mengungkapkan alasan kenapa ada kekasih lain diantara hubungan dengannya.

"Orang tuaku, dia menjodohkanku dengan seorang pria" ungkap Mia.

Mia melihat tangannya mengepal geram, yang sudah sangat beramarah.

"Awalnya aku menolak, karena aku tidak pernah percaya cinta seorang lelaki lagi. Tapi, dia lain, Wandi sungguh lain. Dia sangat meyakinkan aku bahwa masih ada cinta laki-laki untukku, yaitu dia sendiri." tutur Mia.

"Kenapa kamu ga bilang, Mia? Apa aku belum sempurna dimata kamu, sehingga kamu berpaling dari cintaku?" protesnya. Tampak kecemburuan sedang meyelimuti batinnya setelah mendengar tutur kata Mia. Apa lagi melihat wajah sangat bahagia Mia saat sedang bercerita, lain ketika dengan dirinya mungkin hanya kesenangan saja.

"Maafkan aku. Maaf, aku memang salah nggak bilang sejak awal sama kamu. Maaf juga, karena nggak bisa jadi kekasih sejati kamu. Sekali lagi maaf, aku sudah menghancurkan mimpi kita dimasa depan." sesal Mia.

"Jadi kamu, putuskan hubungan kita?" tanyanya lirih.

"Demi aku, aku mohon kamu mau melepaskan aku dan membiarkan aku bahagia dengan Wandi!" pinta Mia.

Mia memohon dengan memegang tangannya erat.

"Lalu aku bagaimana?" ringisnya.

"Kamu pasti akan bahagia dengan pasangan yang sudah tuhan kirim untukmu Marla!" tegas Mia menguatkan.

"Tapi aku, aku hanya ingin denganmu, Mia. Bagiku, cinta laki-laki hanya bagaikan sebuah kertas yang suatu saat terkena air akan robek. Seperti cinta, Dion waktu itu." kenang Marla.

"Marla, kamu nggak lupakan sama nasib aku yang ditinggal nikah sama Opik? Karena dia kita saling ketemu, bahkan sudah keluar dari kodrat manusia. Kita menentang cinta terlarang, tapi kini aku sadar kalau tuhan masih menyimpan kebahagiaan kita kelak disaat yang pas tentunya." jelas Mia.

Marla masih tak rela. Karena itu Mia membiarkannya termenung dengan menunggu wanita bertubuh tinggi itu didekat jendela. Saat sedang menunggu, tiba-tiba handphonenya berdering dan ternyata dari Wandi.

"Bagaimana?" tanya Wandi.

"Aku sudah mengatakan semuanya"

"Lalu?"

"Aku butuh waktu meyakinkannya,"

"Untuk apa?"

"Ini nggak mudah Wan, bagi kamu mungkin hanya dengan kata pisah semua akan beres? Tapi bagi kami, aku dan dia itu sulit. Aku sama dia udah hampir 2 tahun, jadi wajar kalau sulit bagi kami untuk mengakhiri semuanya." kata Mia sedikit membentak.

"Jadi kamu mau bertahan dengan wanita itu?" tanya Wandi sengit.

"Maafkan aku, Wan. Aku nggak bermaksud buat kamu marah, aku masih butuh waktu buat jelasin ke dia, itu saja." sesal Mia.

"Baiklah, aku akan selalu nunggu kamu Mia!" katanya yang menutup telpon.

Mia merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang. Tentu itu adalah Marla. Terasa oleh Mia, Marla sedang mengendus rambutnya lalu meyibak helaian rambut Mia yang kini terlihat jelas leher putih mulus Mia. Nafas Marla terasa dikulit leher Mia yang menggeliat geli dibuatnya.

Entah kenapa malam itu Mia sudah kehilangan kesadaran, yang mana perlakuan romantis Marla membuatnya kembali khilaf yang akhirnya sebuah percintaan pun kembali terulang dimalam itu.

***

Matahari menyingsing sinarnya, tinggi. Teriknya menembus jendela kaca yang menyilaukan bolamata Mia. Perlahan-lahan Mia mengerjapkan bolamata lalu kaget dengan dirinya yang tidur dilantai. Yang membuatnya makin kaget adalah saat potongan bajunya yang berserakan dilantai dan kini dirinya hanya berbalut selimut saja.

"Astagaa!" ringis Mia sembari meremas muka saat kesadarannya pulih lalu teringat kejadian nista malam itu.

"Pagi sayang? Sarapan yuk?" ajak Marla yang membawa nampan berisikan potongan sandwich buatannya dengan dua gelas jus segar.

"Kenapa kamu melakukannya?" tanya Mia lirih.

"Semua ini untuk sarapan kita" jawab Marla polos.

"Yang aku maksud soal semalam, Marla"

"Oooh itu! Kamu menikmatinya, bukan?"

"Tapi, tapi aku sudah bilangkan, kalau aku akan menikah dengan Wandi" protes Mia.

Marla yang sebelumnya duduk manis dihadapan Mia, kini susah memasang wajah kusut.

"Bisa nggak kamu nggak buat hati aku kesal dipagi yang indah ini?" ketus Marla, "Aku yakin kok kamu nggak akan bisa nikah sama Wandi atau pria mana pun, selama kamu masih terikat denganku." tegasnya.

"Kamu gila. Aku bilang kita putus jadi aku sama kamu udah nggak ada hubungan apa pun, Marla." pekik Mia, kesal.

"Kalau kamu memang ingin mengakhiri semuanya, kenapa semalam kamu tidak menolak?" tanya Marla dengan mata menggoda.

Tentu Mia kikuk dan bingung untuk menjawab. Dilain sisi memang dirinya masih memiliki hasrat dengan kekasih wanitanya itu, sehingga tak dapat menolakannya.

"Itu hanya kehilafanku, bukan aku yang inginkan." elak Mia, angkuh. "Kalau bisa diputar, aku tidak pernah ingin kemarin malam terjadi." tambahnya.

"Sudah terjadikan? Untuk apa disesali lagi? Sekarang kita makan, untuk menambah stamina. Siapa tau kamu ingin__" goda Marla.

"Cukup Marla, jangan pernah bahas itu lagi. Atau aku, aku__"

"Apa? Mau lari dariku? Silahkan, yang pasti aku akan terus kejar kamu sampai kemana pun. Kalau perlu, dunia harus tau kita saling mencintai!"

Kalimat Marla semakin menambah keresahan dibatin Mia. Yang mana dirinya tau, Marla begitu serius dengan ucapannya dan akan melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

"Aku harus cari cara lain lepas dari Marla, secepatnya juga" gumam Mia dalam hati.

Mia begitu terpaksa menerima suapan dari Marla. Sebenarnya Mia sudah tak asing diperlakukan romantis olehnya, dan Mia sangat suka itu. Tetapi kini lain, ia harus segera keluar dari zona cinta terlarang dan kembali normal bersama Wandi.

Mia sudah yakin 100% dengan lelaki pilihan orang tuanya itu, karena Wandi sangat menerima apa adanya Mia. Yang tak mempermasalahkan setatus lesbian yang disandangnya. Bahkan Wandi lah pria satu-satunya yang bersedia membantu keluar dari zona itu.

***

Bagi Marla mencari tau tentang Wandi adalah hal yang sangat mudah. Dengan membayar orang suruhannya, kini Marla tau semua tentang calon suami dari kekasihnya itu.

Soal kekayakaan, Wandi tak kalah tajir darinya. Tapi itu tidak menjamin untuk Marla mau melepaskan Mia begitu saja.

Marla mengetahui Wandi sudah memesan sebuah villa yang akan menjadi tempat liburan keduanya. Tentu saja ia tidak tinggal diam, yang langsung menuju ketempat liburan mereka.

Sebelum keduanya datang, Marla sudah tiba terlebih dahulu untuk memastikan rencana apa yang akan dilakukan Wandi pada kekasihnya itu.

Sebuah villa kaca yang cantik. Akan dapat membuat Mia kagum, lalu semakin mencintai Wandi dibandikan dirinya, begitu perasangka Marla akan rencana Wandi.

"Ciih, licik sekali dia" dumal Marla kesal.

Sebuah kamar yang tertata mewah nan romantis bertaburan bunga-bunga membuat Marla muak, lalu menghancurkan hiasan indah itu. Pandangan Marla tertuju pada tembok kaca yang memperlihatkan keindahan pantai disisi villa.

"Jadi semua ini yang kamu suka darinya, Mia? Aku pun bisa melakukan semua ini, bahkan lebih dari ini semua." ringis Marla, kecewa.

Sekitar pukul 00:00 Wandi sudah tiba di villa itu dengan membawa Mia masuk kedalam. Seperti dugaan Marla, Mia tampak kagum melihat indahnya suasa disana. Wandi menutup mata Mia sebelum membawanya kekamar yang telah disediakan. Namun saat tiba disana keduanya heran melihat kondisi kamarnya berantakan, bukan seperti apa yang diinginkan Wandi.

"Kok nggak ditata rapih sih? Aku harus telpon orang yang bertanggung jawab atas semua ini" dumal Wandi.

Mia menahan dengan merebut handphone, lalu dimatikan olehnya.

"Nggak penting bagi aku semua ini, yang penting malam ini aku sama kamu." kata Mia menenangkan.

"Tapikan, aku,"

Kalimat Wandi terhenti saat bibir mungil Mia sudah mendarat di kulit bibirnya. Tanpa mereka sadari Marla sedang memandang dari luar kaca. Marla tak berkutik melihat Mia bersama orang lain, apa lagi bercumbu dengan orang selain dirinya.

Mia menghentikan tangan Wandi yang akan melepas bajunya. Lalu berjalan kearah gorden untuk menutup kaca yang menurutnya takut akan terlihat dari luar.

"Kenapa? Justru aku ingin malam ini kita disaksikan oleh bulan dan bintang-bintang" kata Wandi.

"Tapi kalau ada yang liat, gimana?" ringis Mia, malu.

Wandi mendekat, lalu memeluk tubuh Mia dari belakang sembari melepaskan tangan Mia dari tirai gorden dan berbisik mesra di telinganya.

"Nggak akan ada yang liat sayang, disini sepi, hanya ada aku dan kamu!" bisik Wandi.

Mia sangat sensitif bila ada yang berbisik mesra ke telinga, seketika akan memejamkan bola matanya.

Wandi membalikan tubuh Mia sehingga keduanya saling berhadapan. Ciuman lembut kembali terjadi diantara keduanya, lalu Wandi mulai melucuti baju Mia satu persatu sehingga tak ada sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya.

Marla geram, batinya berang dalam kecemburuan. Tangannya mengepal ganas, melihat adegan ranjang kekasih hatinya dengan pria lain. Marla tak kuasa melihatnya lalu berpaling muka, muak. Dia melangkah pergi meninggalkan tempat persembunyiannya, menuju pesisir pantai.

"Aaahhhhhhhh!"

Teriakan Marla melengking. Menggelegar bersamaan dengan deruan ombak yang tak terdengar oleh Mia dan Wandi yang sedang dimabuk cinta.

"Kamu menyakitiku, Mia" ringis Marla.

Sebutir airmata mentes jatuh ke pipinya, yang dilanjutkan oleh butiran air mata lainnya.

"Kamu lupa akan janji kita, Mia" keluh Marla.

Tubuh Marla lemah, lalu terjatuh diatas pasir. Pandangannya semu melihat kerlipan bintang-bintang yang seolah menari-nari mengiringi syahdunya malam keduanya.

"Kamu hanya milikku Mia, ga akan ada orang lain yang bisa milikin kamu selain aku, Marla." gerutunya sembari meremas pasir, penuh kemarahan.

***

Mia sedang asik mengobrol dengan Wandi di telpon. Namun terhenti saat ibunya datang mengatakan ada temannya yang ingin bertemu. Sebenarnya Mia malas untuk turun dan menemui orang itu, apa lagi tak ada temannya yang memberi taukan akan datang ke rumah.

Langkah Mia seketika terhenti melihat sosok yang tersenyum menyambut kedatangannya. Mia panik saat melihat Marla begitu nekat datang ke rumahnya.

"Kenapa kamu kesini?" cetus Mia.

"Mia! Kenapa begitu kasar sama temen sendiri?" tegur ibunya.

"Nggak apa-apa tante, mungkin Mia kaget aja karena saya nggak kasih tau dia mau datang kesini!" tutur Marla, ramah.

"Kalau gitu tante tinggal yah, masih ada kerjaan" pamit ibu Mia.

Sepeninggalan ibunya, Mia langsung mendekat lalu protes pada kekasih wanitanya itu.

"Kamu ngapain sih pake datang kesini segala?"

"Salahmu sendiri yang menjauhiku, tidak menemui aku, bahkan telpon dan sms pun kamu mengabaikan begitu saja" sindir Marla.

"Aku kan sudah bilang, kalau kisah menjijikan kita berakhir."

"Menjijikan? Ooh, jadi sekarang kamu anggap aku jijik setelah kamu tidur dengan laki-laki itu, hah?" pekik Marla.

"Dari mana kamu, tau?" ringis Mia.

"Hah! Nggak penting aku tau dari mana, yang penting sekarang aku akan mengungkapkan orang tua kamu siapa aku ini, apa hubunganku denganmu, dan kalau perlu dunia harus tau kisah menjijikan kita berdua." ucap Marla mengancam.

Sontak saja Mia takut. Bukan hanya malu yang akan dia tanggung, tapi kebencian dari seluruh keluarga terhadap kelakukan menjijikannya itu.

"Please Marla, jangan lakukan itu. Aku mohon, jangan." pinta Mia.

"Kenapa sih kamu begitu menginginkan kisah kita berakhir? Bukankah kamu sendiri pernah bilang, cinta kita suci dan abadi untuk selamanya?" herannya, "Apa cuma pelampiasan saja bagi kamu, Mia? Kejam." ringis Marla.

"Demi tuhan, aku dulu memang menginginkan cinta kita abadi dan aku sangat mencintai kamu. Tapi sekarang aku sadar, kalau wanita lebih akan bahagia bersama seorang pria." aku Mia.

"Lalu bila dia mencampakanmu seperti yang dulu?" tanya Marla mencoba menggoyahkan.

"Kemungkinan itu memang ada," ringis Mia, "Tapi aku ingin mencoba merubahnya, menjadikan semuanya indah dengan apa yang aku mau." tegas Mia.

"Mia, aku__"

"Jadi tolong! Izinkan aku melepaskanmu untuk bersama Wandi." bujuk Mia, memelas.

Marla tetap menolak dan terus mengancam Mia akan membongkar rahasia diantara mereka pada orang tuanya. Tentu saja Mia akhirnya menuruti keinginan Marla yang tetap ingin hubungan terlarang itu terus ada diantara keduanya.

***

Marla sudah melarang Mia untuk berhubungan lagi dengan Wandi, dan juga harus memutuskan pertunangan diantara mereka. Mia mematuhi itu didepan Marla saja, karena dibelakangnya Mia akan diam-diam bertemu Wandi untuk menjelaskan sulitnya meninggalkan Marla.

"Bukan aku inginkan semua itu, Wan"

"Lalu? Apa susahnya katakan putus, dan jangan pernah temui dia lagi!"

"Mudah bagi kamu mengatakan itu, aku sudah berulang kali memutuskannya, tapi dia selalu menolak. Kamu tau apa yang membuatku tetap bersamanya? Dia, dia mengancam aku akan membongkar semua kisah cintaku dengannya." ungkap Mia, berang.

"Wanita licik!" gerutu Wandi. "Harusnya kamu jangan takut, aku akan tetap bersama kamu walau pun semua tau masa lalu kamu, sayang" kata Wandi menenangkan.

"Tapi gimana kalau semua keluargaku marah? Lalu, lalu mereka mengucilkanku dan tidak menganggapku bagian dari mereka lagi?" ringis Mia dengan wajah lesu.

"Terus, mau kamu bagai mana dengan masa depan kita?" tanya Wandi.

"Aku butuh waktu," pinta Mia, seraya berdiri membelakangi Wandi.

"Hanya untuk membereskan masalah Marla saja, aku mohon, kamu mau sabar menungguku?" lanjutnya.

Wandi bangkit dari duduknya dengan berdiri dihadapan Mia. Terlihat wajah Mia tampak kebingungan, sehingga sudah sepatutnya ia mengalah sedikit untuk menuju kebahagiaan.

"Baiklah, aku akan menunggu kamu" ucap Wandi sembari memeluk tubuh Mia.

"Terimakasih sayang. Aku janji, akan segera membereskannya." tegas Mia.

"Kalau perlu aku akan singkirkan wanita iblis itu." gumam Wandi dalam hati.

To be continue ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar